Kilas Cerita
KAMU
YANG JAUH DISANA
Tidak ada yang
tahu bagaimana perjalanan hidup seseorang di dunia ini. Bagaimana hari ini,
esok dan seterusnya hidupku hanya Allah yang mengetahuinya..
Aku bukan
manusia tanpa pernah berbuat dosa. Dan setiap kali aku memikirkan hal ini, ada
seribu penyesalanku pada diriku sendiri. Tentang apa yang telah aku perbuat
untuk diriku sendiri ataupun terhadap orang lain.
Mungkin ada
banyak yang telah atau bahkan sering aku sakiti hatinya. Seperti orang tuaku,
yang hingga saat ini akupun belum bisa membuat mereka bahagia. Saudara-saudaraku
yang tak jarang ku buat mereka kesal dengan perilakuku. Sahabat-sahabatku yang
juga tak jarang sering kecewa karenaku. Dan orang lain yang sering kali tak ku
pedulikan.
Namun, dari
sekian banyak orang itu ada satu orang yang meninggalkan penyesalan yang begitu
mendalam pada diriku. Dia ada di masa laluku yang begitu lampau.
15 tahun yang lalu..
Seperti
biasanya pagi ini matahari menampakkan wajahnya dengan sedikit enggan. Dengan
sedikit keberaniannya, perlahan tapi pasti ia mulai bersinar terang seiring
dengan keberangkatan Vani ke sekolah pagi itu.
Seperti biasa
pagi ini diawali dengan meminum segelas susu putih hangat yang dibuat oleh ibu.
Tapi selalu Vani tak pernah bisa menghabiskan susu putih hangat itu. Entah
mengapa, baginya terlalu manis susu putih yang dibuatkan oleh ibu. Dan ia tak
menyukai itu.
Dengan bekal
yang telah dipersiapkan dan baju seragam taman kanak-kanak yang telah terpakai
rapi olehnya, Vani berangkat ke sekolah. Karena sekolah yang cukup jauh dari
rumah, Vani setiap paginya diantar oleh sang ibu ke sekolah menggunakan sepeda
motor. Lalu ibu biasanya akan menjemput Vani ketika jam pulang sekolah tiba.
Di kelas Vani
bukanlah anak yang memiliki banyak teman. Bisa dibilang ia adalah siswa yang
pendiam dikelasnya. Dia hanya berteman dengan satu atau dua orang siswa di
kelasnya.
Di kelas Vani
ada beberapa golongan anak. Yang pertama, anak perempuan yang sok berkuasa.
Kedua, anak-anak laki-laki yang super bandel. Dan yang ketiga, anak yang
biasa-biasa aja. Dan Vani termasuk di kategori ketiga dari tiga golongan itu.
***
Setiap jam
istirahat tiba, biasanya siswa yang ada di sekolah taman bermain itu
menghabiskan waktu mereka untuk menyantap makanan yang mereka bawa dari rumah
atau membeli makanan dari para penjual makanan lalu bermain dihalaman. Selepas
menyantap makanan biasanya para siswa bermain di halaman sekolah. Permainan di
taman bermain sekolahnya Vani tidak banyak. Hanya ada dua buah ayunan, dan satu
perosotan.
Yang
menyebalkan dan yang paling tidak disukai Vani adalah permainan di sekolah itu
dikuasai oleh sekelompok anak. Permainan yang biasanya dikuasai oleh mereka
adalah permainan ayunan. Dan biasanya anak-anak yang lain hanya bisa bergantian
bermain perosotan secara bergilir.
Siang itu, karena
merasa bosan dengan permainan yang ada Vani dan temannya. Wulan bermain di
tempat lain. Mereka berdua bermain di dekat jalan setapak kecil. Saat mendengar
lonceng berbunyi keduanya terkejut dan langsung bergegas ingin memasuki ruang
kelas. Tapi sialnya bagi Vani, saat akan bergegas memasuki kelas ia terjatuh
karena tersandung batu. Kakinya berdarah karena ia terjatuh cukup keras ke
jalan setapak.
Dengan perasaan
takut dimarahi sang ibu Vani mencoba menyembunyikan luka di kakinya dengan
menutupinya dengan rok yang ia kenakan dari ibu guru. Hingga jam pulang
sekolah, Vani berhasil menyembunyikan luka di kakinya tanpa ketahuan bu guru.
***
Meskipun
disekolah, tidak ada yang mengetahui luka di kakinya. Namun, Vani tetap menutupi
luka dikakinya dari ibu. Entah mengapa ia merasa takut kalau harus dimarahi
sang ibu. Ketakutan itulah yang membuat Vani tidak berani untuk menceritakan
hal yang sebenarnya pada ibunya.
Sepintar apapun
Vani menyembunyikan lukanya, tetap saja ibu bisa melihat luka di kaki Vani.
“Vani, Kaki
kamu berdarah? Ini berdarah kenapa? Kamu jatuh? Jatuh dimana? Bu guru kamu kok
gak bilang sama ibu. Besok ibu kesekolah kamu ya..” tanya ibu bertubi-tubi pada
Vani.
“ Jangan bu..
jangan bilang bu guru, Vani gak papa kok”. Vani semakin merasa takut untuk
menceritakan yang sebenarnya pada sang ibu.
“Kamu dijahati
sama temen kamu? Bilang sama ibu siapa orangnya?”
Vani masih
terdiam, namun akhirnya dengan sedikit tergagap dan menahan tangis ia menjawab.
“Ik.. ikhsan bu..”
Setelah
mengucapkan kata-kata itu tadinya Vani pikir bahwa ibunya tidak akan kesekolah
dan menyanyakan kepada bu guru yang sebenarnya terjadi pada anaknya. Namun,
dugaan Vani salah. Keesokan harinya ibu malah datang kesekolah untuk menemui
ikhsan.
Di sekolah
ikhsan memang terkenal sebagai anak yang nakal dan sering membuat siswa lain
menangis. Namun, kali ini sungguh bukan karena ulah Ikhsan Vani terluka. Hari
itu adalah hari sial buat ikhsan karena ia habis dimarahi oleh ibunya Vani.
Ikhsan menangis dan ia bilang bahwa bukan ia pelakunya. Sementara Vani hanya
diam, ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Ia kasihan terhadap ikhsan.. tapi
ia juga takut mengatakan yang sebenarnya pada ibu. Apalagi ibu sudah melabrak
ikhsan di depan bu guru. Habislah Vani kalau ibu tahu yang sebenarnya bahwa
Vani terjatuh bukan karena Ikhsan.
Bersambung...
Comments
Post a Comment